Time to share

Entries categorized as ‘gospel’

Aku bertanya dalam hati

August 17, 2008 · Leave a Comment

Tuhan, Engkau mengetahui, bagaimana aku melayani Mu

Dengan semangat yang bernyala-nyala

Tatkala menjadi pusat perhatian.

Engkau mengetahui betapa semangatnya kau ketika berbicara untuk Mu

Di pertemuan wanita.

Engkau mengetahui betapa sucinya aku ketika memimpin

Sebuah kelompok persekutuan.

Engkau mengetahui kesungguhan antusiasku

Di sebuah kelompok pelajaran Alkitab.

Namun aku bertanya dalam hati, bagaimanakah aku akan bereaksi

Jika Engkau menunjuk ke sebuah baskom air

Dan memintaku untuk mencuci kaki berkulit kasar

Dari seorang wanita tua yang keriput dan bungkuk

Hari demi hari

Bulan demi bulan

Di sebuah kamar dimana tak seorang pun melihat

Dan tak seorang pun tahu

By: Ruth Harms Calkin

Categories: gospel

Kaki terjepit, siapa yang berteriak?

August 17, 2008 · 1 Comment

“Kaki terjepit, kita menjerit. Kaki siapa? Kaki kita tentu saja. Masakan kaki orang lain terjepit kita yang menjerit. Kita diam saja. Paling-paling kita merasa kasihan” –Andar Ismail, Selamat Berkarya.

Benarkah rasa empati itu mulai memudar kini? Saya teringat tadi sore adik saya bercerita bahwa dari kejauhan dia melihat ada seorang yang kecelakaan didepan kampusnya. Seseorang yang jatuh dari motor. Orang itu tak sanggup menolong dirinya sendiri. Namun ironisnya, orang-orang disekitarnya, baik para pejalan kaki maupun orang-orang bermobil, tidak ada yang langsung menolongnya. Semuanya hanya terpaku melihat dan mengaduh. Hingga beberapa waktu ada juga yang menggendong orang naas tersebut dan meraihnya ke pinggir jalan.

Ketika mendengar cerita itu, spontan dalam hati saya berpikir, jika saya berada di tempat kejadian, pasti saya akan langsung menolongnya. Itu yang ada di benak saya. Namun, kemudian saya teringat kejadian saya tadi siang. Ketika saya di angkot menuju Istana Plaza, ternyata ada seorang pemuda yang memberhentikan dan ingin menaiki angkot tersebut. Namun, kondisi angkot kami saat itu tinggal tersisa 1 tempat, kalau tidak mau dikatakan sudah penuh, karena tempat tersebut, saya pikir, tidak layak untuk diberikan kepada orang dewasa. Namun, karena sang supir (mungkin) mengejar setoran, maka tanpa berpikir panjang, dia langsung menyuruh penumpang yang paling luar untuk menempati 1 tempat sebelah dalam yang tersisa itu agar si pemuda itu dapat masuk ke angkotnya. Penumpang yang kurang beruntung itu, walaupun dengan raut wajah yang tidak terima, namun akhirnya berpindah tempat duduk juga kedalam. Alhasil dia tidak dapat duduk senyaman tadi karena sebenarnya dia bukanlah duduk, tapi hanya menyentuhkan bokongnya di sela-sela tempat duduk. Melihat pemandanga itu, semua penumpang, termasuk saya, hanya diam saja, karena toh emang bukan kami yang diganggu.

Pengalaman ini menggelitik saya, benarkah saya akan meolong orang yang kecelakaan itu jika saya berada di posisi dan pada waktu itu? Benarkah saya masih memiliki empati dengan keadaan sekitar?

Categories: gospel