Buat kamu yang sudah menonton Surat Kecil Untuk Tuhan, pasti tau siapa Keke yang dimaksud..
Akhirnya aku berkesempatan menonton film ini, meski setelah 3 minggu dari tayang perdananya
. Film yang disutradarai oleh Harris Nizam ini diangkat dari kisah nyata, tentang seorang gadis remaja yang menderita kanker. Dia adalah Gita Sesa Wanda Cantika atau yang akrab dipanggil dengan nama Keke.
Aku tak bermaksud menceritakan ulang kisahnya disini. Untuk itu, silahkan kamu nikmati sendiri setiap alur kejadiannya. Ketika menontonnya, tak henti-hentinya air mata ku mengalir. Aku terkesima dengan kehidupan Keke.
Awalnya, mungkin banyak orang yang iri dengan kehidupan Keke. Otak cerdas, paras cantik, berasal dari keluarga berada, berbakat dan berprestasi, memiliki sahabat-sahabat yang baik dan setia, keluarga yang mencintainya (meski kedua orang tua nya bercerai), dan pacar yang tulus. Tapi itulah kehidupan. Dibalik “kesempurnaan” itu, Keke ternyata mengidap kanker jaringan lunak, yang menyerang pipi nya. Ayahnya, yang sudah tau lebih awal, ngga tega kalo Keke harus dioperasi. Ahh..ayah mana yang tega membiarkan separuh pipi anaknya akan diangkat. Jalur pengobatan alternatif pun dicoba. Namun hasilnya nihil, bahkan semakin parah.
Keke oh Keke.. Wajah cantik mu kini seperti monster. Bagaimana tidak? Dengan pipi yang bengkak sebelah, bahkan mata sebelah kiri nya pun hampir tidak kelihatan oleh karena bengkaknya (kalau mau lihat visualisasinya, nonton aja langsung film nya ya
).
Hingga suatu saat, ayahnya menyerah dan kembali ke jalur medis. Kemoterapi pun menjadi satu-satunya pilihan. Mukzizat! Kanker stadium 3 itu berhasil disembuhkan.
Seketika aku membayangkan bagaimana kalau aku mengalami hal itu. Ahh..rasanya aku tak akan sanggup lagi menjalani kehidupan ini. Untuk apa aku berharap hidup jika dengan muka bengkak seperti itu. Malu. Meski mereka tak pernah mengejek, tapi aku sendiri saja jijik melihatnya. Apalagi dengan mimik kasihan dan air mata. Ahh..fenomena yang memuakkan. Bukankah alangkah lebih baik kalau semua ini berakhir saja? Apalagi tak banyak penderita kanker (dengan stadium tinggi seperti itu) yang sembuh. Mungkin itu yang ada dalam benak ku.
Aku tidak sadar bahwa orang-orang yang mengasihiku masih sangat ingin bersama-sama dengan ku. Justru ketika muncul hasrat ingin berakhir, yang ada hanyalah egoisme yang tidak memikirkan orang lain. Aku lupa bahwa Dia-lah empunya waktu. Selagi masih ada waktu, ntah dalam kondisi bagaimana pun, berarti Sang Empunya Kehidupan masih menginginkan ku untuk berkarya di bumi ini. Berkarya yang menjadi berkat bagi sesama, bukan mengasihani diri.
Setelah sembuh, Keke menjalani kehidupannya kembali seperti biasa. Sekolah, bermain, ekskul, dll. Tapi siapa sangka 6 bulan kemudian, sel jahat itu muncul lagi dalam tubuhnya. Bahkan kini, kemoterapi pun tak sanggup melawan penyakit itu. Tubuhnya makin lemah, hingga akhirnya ia dikalahkan oleh penyakit itu. Kepergiannya menyisakan kenangan dan kepedihan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya, sekaligus menjawab pertanyaan Keke selama ini: “aku penasaran bagaimana nanti aku akan dikenang”. Pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh mereka yang ditinggalkan.
Kadang kita tak pernah tau alasan dibalik suatu ujian. Dan tak perlu jua kita mempertanyakannya. Bagian kita adalah menjalani semampu kita selagi masih ada waktu, dalam pertolongan dan anugerahNya. Jika waktunya telah habis, saatnya kembali kepada Sang Khalik. Yang tersisa hanyalah kenangan. Dan biarkan mereka yang masih tinggal yang akan menjawab, bagaimana nanti kita akan dikenang.
Keke, bahkan setelah mati pun, kau masih sanggup menginspirasi banyak orang, melalui film ini.
Aku penasaran bagaimana nanti aku akan dikenang – Gita Sesa Wanda Cantika (1991-2006)