Travelling: Brastagi

Tentu ini bukan kali pertama aku ke Brastagi (secara aku masih orang karo :-p). Jadi, tujuan perjalanan kali ini tentu bukan spot familiar seperti bukit Gundaling atau taman bermain Mikie Holiday. Target kali ini sengaja didesain bernuansa modern dan tradisional (halah :-D ): taman alam Lumbini, desa Lingga, dan Peceren

1. Taman Alam Lumbini

Siapa sangka di dekat Brastagi berdiri pagoda besar nan megah? Tepatnya di Desa Tongkoh, Kec. Dolat Rakyat, Kab. Tanah Karo, sekitar 5 km sebelum kota Brastagi. Masuk ke dari simp. Tongkoh (arah ke Tiga Panah) sekitar 500 m kemudian, belok kanan. Meski berdiri megah, pagoda ini tidak terlihat dari pinggir jalan karena letaknya yang agak kedalam. Jadi, buat yang pertama kali berkunjung kesini, jangan segan-segan bertanya dengan penduduk sekitar.

Memasuki wilayah pagoda ini, disambut dengan buku tamu dan peraturan ala security :-) . Pagoda ini sendiri belum diresmikan, namun sudah mulai dibuka untuk umum sejak Oktober 2010. Terbilang baru memang. Tapi berhasil menggaet 2 rekor MURI untuk kebaktian yang dihadiri dengan bikhu terbanyak dan replika Shwadegon tertinggi di Indonesia. Hmm..

Menatap kemegahan pagoda di tempat ini dengan warna keemasan dan arsitektur serta relief yang tak biasa, membuat ku sejenak berpikir, “mengapa didirikan disini?”, mengingat Tanah Karo bukanlah daerah yang didominasi oleh suku Chinese maupun umat Budha. Namun, sejenak kemudian terlintas di pikiran, mungkin ada kaitannya dengan Feng Shui atau tata letak keberuntungan yang mereka percayai. Ahh..ntah apa pun itu, aku tetap mengagumi keindahan arsitektur nya.

Usai menikmati arsitektur pagoda tersebut, aku dan teman-teman bermaksud mengitari taman di sekitar pagoda tersebut. Ternyata luas banget (meski aku ngga punya cukup data berapa luas lahan kawasan ini). Lahan yang luas ini, ditanam berbagai jenis tanaman dan bunga. Sangat apik. Ditambah dengan sentuhan perairan, seperti kolam dan aliran sungai kecil yang memanjakan telinga :-) . Kamu pasti menikmati setiap sudut taman ini, terutama buat kamu penyuka agro dan ekowisata.

2. Desa Lingga

Puas dengan konsep modern ala Taman Alam Lumbini, target selanjutnya adalah Desa Lingga. Spot ini mungkin luput dari list para traveller, karena sosialisasinya yang kurang. Baiklah, aku kan mencoba mengangkat kembali desa ini sebagai salah satu tujuan wisata budaya.

Desa Lingga terletak di Kec. Simp. Empat, sekitar 5 km dari Kabanjahe atau 15 km dari Brastagi. Menuju Desa Lingga (dari Desa Tongkoh), aku dan teman-teman musti 3x naik angkutan. Pertama ke Brastagi, kemudian dari Brastagi ganti angkutan lagi ke Kabanjahe (stasiun Bambu Runcing), dan dari sini ganti angkutan lagi ke Desa Lingga. Apa yang menarik disini?

Hanya disinilah (menurut informasi yang dapat dipercaya) terdapat rumah adat karo yang masih ada dan terpelihara. Hanya tinggal 2! Rumah ini sudah berusia ratusan tahun, demikian kata salah satu penghuninya. Tak ada paku ataupun semen (apalagi genteng) dalam struktur bagunan tersebut. Dindingnya terbuat dari bambu, atapnya dari rumbai, dan tiangnya menggunakan pasak kayu yang besar. Hanya ada 2 pintu: depan (jahe) dan belakang (njulu). Dahulu, masuk hanya diperkenankan dari pintu depan, dan keluar hanya dari pintu belakang. Rumah ini difasilitasi untuk 8-10 keluarga tinggal didalamnya (tergantung jenis rumahnya). Kalau rumah raja, bisa untuk 10 KK, sedangkan untuk rumah biasa hanya 8 KK saja.

Rumah raja dengan kapasitas 10 KK (kiri) dan rumah biasa dengan kapasitas 8 KK (kanan):

Begitu masuk, sepintas terlihat plong suatu ruang tamu tanpa sekat. Tapi setelah diperhatikan, disisi kiri maupun kanan nya terdapat pintu-pintu yang menuju ke kamar tidur. Jadi tiap KK mendapat 1 kamar. Di ruang tamu, juga terdapat semacam tungku yang digunakan untuk aktivitas dapur. Letaknya persis didepan pintu kamar. Ada 8-10 buah. Jadi, tiap KK mendapat 1 tungku yang berfungsi sebagai dapur mereka.

Itulah deskripsi rumah tersebut. Sekarang, rumah itu hanya ditinggalin oleh 2 atau 3 KK saja. Dua keluarga di rumah berkapasitas 10 KK (rumah raja), dan 3 KK di rumah biasa (berkapasitas 8 KK). Salah satu penghuni rumah (kami memanggilnya bibi-panggilan orang karo untuk wanita paruh baya), banyak bercerita tentang historis rumah adat tersebut, budaya karo, termasuk cara memanen padi, membuat cimpa (kue tradisional khas karo, mirip kue bugis), dan pengalamannya tinggal di rumah itu (yang sudah lebih dari 20 tahun). Ternyata rumah itu ada yang disewakan. Beliau (bibi itu -pen) dikenakan tarif Rp.150rb/tahun. Tidak tau dengan pasti untuk siapa uang itu. Mungkin ke Pemda atau keturunan pemilik rumah (karena pada kenyataannya ada juga yang tidak menyewa oleh karena keturunan si pemilik rumah).

Sayang, rumah adat tersebut tidak terlalu dirawat dengan baik. Apalagi kini tersisa tinggal 2 rumah adat karo. Tidak jauh dari 2 rumah tersebut, tampak pula rumah adat yang telah rusak. Hmm..begini kalau rumah itu tidak dirawat. Tentu kita tidak mau kalau rumah itu rusak, karena rumah adat merupakan aset kekayaan budaya Indonesia.

Keterangan gambar (searah jarum jam):

1. Angkutan menuju Desa Lingga dari Kabanjahe (Sigantang Sira No. 06)

2. Suasana Desa Lingga berlatar Gn. Sinabung

3. Tungku didalam rumah adat yang digunakan untuk aktivitas dapur

4. Pintu belakang rumah adat

5. Rumah adat yang telah rusak

6. Kondisi dalam rumah (terlihat tungku berjejer di sisi kiri dan kanan, persis didepan pintu kamar)

3. Peceren

Angkutan keluar Desa Lingga hanya sampai jam 17.30 wib. Karena itu, kami buru-buru meningggalkan desa tersebut, meski ingin rasanya lebih lama menikmati suasana di kampung ini. Dari Desa Lingga, incaran kami berikutnya adalah Desa Peceren. Setelah memanjakan mata, kini saatnya memanjakan lidah :-D . Yaa,, wajik dan cendol karo adalah menu khas desa ini. Dan, rugi rasanya jauh-jauh dari Medan tapi tidak sempat menikmati cemilan ringan ini.

Dengan rute yang sama, dari Desa Lingga-Kabanjahe-Brastagi-Peceren. Tepat jam 18.00 kami tiba di Peceren. Tapi.. Ahh,,betapa air liur rasanya udah sampai di ujung lidah. Semua warung wajik sudah tutup. Alhasil, aku hanya dapat mengambil gambar plang toko nya saja :-( .

 Meski capek, namun berharga.

 

Tertarik menikmati wisata budaya dan wisata taman di Brastagi?

3 thoughts on “Travelling: Brastagi

    • dari TLA or TAL (Taman Alam Lumbini)? Klo dari TAL menuju Brastagi, jalan dulu sampai simp. tongkoh, lalu ambil angkutan apa aja dari sana nyampe kok.. paling 10 menit lg.. smoga membantu :-)

Tinggalkan pesan..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s