BEKERJA tentu saja bukan hanya untuk menghidupi semata. Bukan pula sekedar eksistensi diri. Ahh..itu hanya secuil aspek dari bekerja. Namun, mengapa justru banyak orang terjebak dengan aspek yang cuil ini?
Menurut ku aspek lain yang tak dapat diabaikan (bahkan mendapat porsi yang lebih besar) yaitu bekerja adalah belajar dan berkarya. Setuju dengan dengan opini publik, belajar itu seumur hidup. Long life education. Inilah relevansinya bahwa bekerja merupakan bagian dalam proses pembelajaran. Dan berkarya sesungguhnya merupakan wujud nyata dari pembelajaran itu. Tentu, karya yang dihasilkan pun seyogyanya bernilai guna bagi diri sendiri dan sekitar. Jika hal ini terpenuhi maka akan tercapai kepuasan dalam bekerja. Itulah hakekat bekerja.
Jika bekerja adalah belajar, sepantasnya dengan bekerja menjadikan si pekerja semakin pandai, bukan stagnan apalagi menurun. Ntah dalam bidang apapun, sesuai dengan preview tingkat kelayakan masing-masing orang. Jika hal itu tidak didapati, si pekerja layak mempertanyakan apakah ia masih dapat dikatakan bekerja? Jika ia tidak bekerja, maka tak sepantasnya pula ia menerima upah.
Doktrin itu terus bercokol dalam pikiran ku. Tapi bagaimana realisasinya di dunia pekerjaan? Jika memang doktrin itu masih layak dipertahankan dan diajarkan, mengapa banyak orang ragu keluar dari zona nyaman nya dan mengambil langkah yang tidak populer? Keluar dari zona nyaman bukan berarti turun kelas, melainkan tantangan baru..
*renungan sebelum tidur [Medan, 16 Maret 2011 00:15 wib]
waah, pipien, terkesan baca notes’mu ini.. jadi bahan perenungan untuk memotivasi diri jadi lebih baik.