“Kaki terjepit, kita menjerit. Kaki siapa? Kaki kita tentu saja. Masakan kaki orang lain terjepit kita yang menjerit. Kita diam saja. Paling-paling kita merasa kasihan” –Andar Ismail, Selamat Berkarya.
Benarkah rasa empati itu mulai memudar kini? Saya teringat tadi sore adik saya bercerita bahwa dari kejauhan dia melihat ada seorang yang kecelakaan didepan kampusnya. Seseorang yang jatuh dari motor. Orang itu tak sanggup menolong dirinya sendiri. Namun ironisnya, orang-orang disekitarnya, baik para pejalan kaki maupun orang-orang bermobil, tidak ada yang langsung menolongnya. Semuanya hanya terpaku melihat dan mengaduh. Hingga beberapa waktu ada juga yang menggendong orang naas tersebut dan meraihnya ke pinggir jalan.
Ketika mendengar cerita itu, spontan dalam hati saya berpikir, jika saya berada di tempat kejadian, pasti saya akan langsung menolongnya. Itu yang ada di benak saya. Namun, kemudian saya teringat kejadian saya tadi siang. Ketika saya di angkot menuju Istana Plaza, ternyata ada seorang pemuda yang memberhentikan dan ingin menaiki angkot tersebut. Namun, kondisi angkot kami saat itu tinggal tersisa 1 tempat, kalau tidak mau dikatakan sudah penuh, karena tempat tersebut, saya pikir, tidak layak untuk diberikan kepada orang dewasa. Namun, karena sang supir (mungkin) mengejar setoran, maka tanpa berpikir panjang, dia langsung menyuruh penumpang yang paling luar untuk menempati 1 tempat sebelah dalam yang tersisa itu agar si pemuda itu dapat masuk ke angkotnya. Penumpang yang kurang beruntung itu, walaupun dengan raut wajah yang tidak terima, namun akhirnya berpindah tempat duduk juga kedalam. Alhasil dia tidak dapat duduk senyaman tadi karena sebenarnya dia bukanlah duduk, tapi hanya menyentuhkan bokongnya di sela-sela tempat duduk. Melihat pemandanga itu, semua penumpang, termasuk saya, hanya diam saja, karena toh emang bukan kami yang diganggu.
Pengalaman ini menggelitik saya, benarkah saya akan meolong orang yang kecelakaan itu jika saya berada di posisi dan pada waktu itu? Benarkah saya masih memiliki empati dengan keadaan sekitar?
1 response so far ↓
irsalina // August 17, 2008 at 3:20 pm |
ho oh.. bener..
ica juga sering duduk dalam keadaan gak bener-bener duduk.. -__-
saat itu pengen aja rasanya langsung ganti angkot aja.. huuuhh..